esbicare
  • Artikel
  • Bagaimana Reaksi Kulit Jika Terpapar Asap Terus-Menerus? Waspadai Dampak Kabut Asap Karhutla di Kalimantan
2150789219.jpg

Bagaimana Reaksi Kulit Jika Terpapar Asap Terus-Menerus? Waspadai Dampak Kabut Asap Karhutla di Kalimantan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Ketika kebakaran terjadi dan asap menyebar ke permukiman, warga bisa terpapar polusi udara selama berjam-jam hingga berhari-hari, terutama jika kondisi kabut asap tidak kunjung membaik.

Dampak asap karhutla sering dikaitkan dengan batuk, sesak napas, dan iritasi mata. Namun, kulit juga dapat mengalami gangguan akibat paparan polutan yang terkandung dalam asap. Beberapa orang mungkin merasakan kulit menjadi lebih kering, gatal, kemerahan, atau mengalami kekambuhan penyakit kulit yang sebelumnya sudah dimiliki.

Lantas, bagaimana reaksi kulit jika terpapar asap karhutla secara terus-menerus? Memahami dampaknya dapat membantu masyarakat mengambil langkah perlindungan yang tepat selama kualitas udara memburuk.

Mengapa Asap Karhutla Bisa Memengaruhi Kesehatan Kulit?

Asap karhutla merupakan campuran partikel halus, gas, dan senyawa kimia yang dihasilkan dari pembakaran vegetasi. Komposisinya dapat berbeda-beda, bergantung pada bahan yang terbakar serta kondisi kebakaran.

Salah satu komponen yang perlu diperhatikan adalah PM2.5, yaitu partikel polusi berukuran sangat kecil dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Partikel ini dapat bertahan di udara dan masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Sementara itu, paparan polusi juga dapat memengaruhi kesehatan kulit melalui kontak langsung dengan permukaan kulit dan mekanisme peradangan.

Kulit memiliki lapisan pelindung yang berfungsi mempertahankan kelembapan serta menghalangi masuknya berbagai zat dari lingkungan. Paparan polutan dapat mengganggu fungsi lapisan pelindung tersebut dan meningkatkan stres oksidatif serta peradangan pada kulit.

Penelitian mengenai polusi udara menunjukkan adanya hubungan antara paparan polusi dan memburuknya sejumlah masalah kulit, termasuk dermatitis atopik atau eksim. Meski demikian, bukti mengenai dampak spesifik asap karhutla terhadap kulit masih terus berkembang.

Reaksi Kulit Jika Terpapar Asap Karhutla Terus-Menerus

1. Kulit Menjadi Kering dan Terasa Kasar

Salah satu reaksi yang mungkin dialami ketika kulit terus terpapar udara tercemar adalah meningkatnya rasa kering dan tidak nyaman. Kondisi ini dapat terjadi ketika fungsi lapisan pelindung kulit terganggu sehingga air lebih mudah menguap dari permukaan kulit.

Kulit yang sebelumnya terasa lembut dapat menjadi kasar, bersisik, atau terasa tertarik setelah mandi. Keluhan ini bisa lebih terasa pada orang yang memang memiliki kulit kering atau sering berada di luar ruangan saat kabut asap menyelimuti lingkungan.

Meski begitu, kulit kering tidak selalu disebabkan oleh asap. Penggunaan sabun yang terlalu keras, cuaca, kebiasaan mandi dengan air panas, dan kondisi kulit tertentu juga dapat berperan.

2. Kulit Gatal dan Kemerahan

Paparan polutan dapat memicu iritasi dan reaksi peradangan pada sebagian orang. Akibatnya, kulit mungkin terasa gatal, tampak kemerahan, atau terasa perih, terutama pada bagian tubuh yang terbuka seperti wajah, leher, dan tangan.

Reaksi ini dapat semakin mengganggu jika seseorang terus berada di lingkungan dengan kualitas udara buruk. Keringat, gesekan pakaian, dan kebiasaan menggaruk juga bisa memperparah ketidaknyamanan.

Jika rasa gatal disertai ruam yang menyebar, pembengkakan, luka, atau keluhan yang tidak membaik, sebaiknya periksakan diri ke tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebabnya.

3. Eksim Bisa Kambuh atau Semakin Parah

Eksim, termasuk dermatitis atopik, merupakan kondisi peradangan kulit yang dapat menyebabkan kulit kering, gatal, kemerahan, dan terkadang pecah-pecah. Pada orang yang sudah memiliki eksim, paparan polusi udara dapat menjadi salah satu faktor lingkungan yang memperburuk gejala.

Sejumlah penelitian mengenai polusi akibat kebakaran hutan menemukan hubungan antara periode paparan asap dan meningkatnya kunjungan untuk menangani eksim serta keluhan gatal. Namun, temuan tersebut tidak berarti setiap orang yang terpapar asap pasti mengalami eksim. 

Bagi warga yang tinggal di wilayah terdampak kabut asap karhutla di Kalimantan, penting untuk memperhatikan perubahan kondisi kulit. Jika eksim mulai kambuh, tetap gunakan perawatan yang telah dianjurkan dokter dan konsultasikan jika keluhan semakin berat.

4. Kulit Sensitif Lebih Mudah Mengalami Iritasi

Orang yang memiliki kulit sensitif mungkin lebih mudah merasakan perih, panas, atau tidak nyaman ketika terpapar polusi. Gejala tersebut dapat semakin terasa jika kulit sebelumnya sudah mengalami kerusakan lapisan pelindung.

Paparan asap bukan satu-satunya penyebab kulit sensitif. Produk perawatan yang mengandung bahan pewangi, penggunaan eksfolian secara berlebihan, dan paparan bahan kimia tertentu juga dapat memperburuk iritasi.

Selama kabut asap berlangsung, sebaiknya gunakan rutinitas perawatan kulit yang sederhana. Hindari mencoba terlalu banyak produk baru ketika kulit sedang mengalami iritasi agar penyebab keluhan lebih mudah dikenali.

5. Jerawat Bisa Terlihat Lebih Meradang pada Sebagian Orang

Polusi udara diduga dapat memengaruhi peradangan dan keseimbangan permukaan kulit. Pada sebagian orang, kondisi lingkungan yang buruk dapat bertepatan dengan jerawat yang terlihat lebih meradang atau kulit yang semakin tidak nyaman.

Namun, hubungan antara asap karhutla dan jerawat tidak sesederhana bahwa asap pasti menyumbat pori-pori dan menyebabkan jerawat. Jerawat dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk produksi minyak, perubahan hormon, peradangan, faktor genetik, dan penggunaan produk yang tidak sesuai.

Karena itu, jika jerawat memburuk selama musim kabut asap, jangan langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya hanya polusi. Tetap bersihkan wajah secara lembut dan gunakan produk yang sesuai dengan kondisi kulit.

6. Kulit Terasa Perih dan Lapisan Pelindungnya Terganggu

Paparan polutan yang berulang dapat berkontribusi terhadap stres oksidatif dan gangguan fungsi pelindung kulit. Jika lapisan pelindung melemah, kulit bisa menjadi lebih mudah kehilangan kelembapan dan lebih sensitif terhadap bahan yang sebelumnya dapat ditoleransi.

Akibatnya, penggunaan produk perawatan tertentu mungkin terasa menyengat atau menimbulkan rasa perih. Gejala ini bukan bukti pasti bahwa asap telah merusak kulit secara permanen, tetapi dapat menjadi tanda bahwa kulit sedang mengalami iritasi atau memiliki masalah lain yang perlu diperhatikan.

Untuk sementara, hindari penggunaan produk yang menimbulkan rasa perih dan utamakan pembersih lembut serta pelembap yang cocok bagi kulit.

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Gangguan Kulit?

Pada dasarnya, siapa pun dapat mengalami iritasi kulit akibat lingkungan yang tercemar. Namun, beberapa kelompok mungkin membutuhkan perhatian lebih, terutama ketika paparan berlangsung berulang kali.

Anak-anak dan orang lanjut usia perlu mendapatkan perlindungan karena kondisi kulit dan kebutuhan perawatannya dapat berbeda. Orang dengan eksim, dermatitis kontak, kulit sangat kering, atau gangguan pelindung kulit juga mungkin lebih rentan mengalami keluhan.

Warga yang bekerja di luar ruangan, seperti petani, pekerja lapangan, pengendara, dan petugas penanganan kebakaran, berpotensi mengalami paparan yang lebih lama. Jika aktivitas tidak dapat dihindari, langkah mengurangi paparan dan menjaga kebersihan kulit menjadi semakin penting.

Cara Melindungi Kulit Selama Kabut Asap Karhutla

1. Batasi Aktivitas di Luar Ruangan

Ketika kualitas udara memburuk, kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama saat asap terlihat pekat atau terdapat peringatan kualitas udara tidak sehat. Jika memungkinkan, lakukan pekerjaan di dalam ruangan dan ikuti informasi dari otoritas setempat.

Mengurangi paparan merupakan langkah utama karena perawatan kulit saja tidak dapat menghilangkan risiko yang ditimbulkan oleh polusi udara.

2. Bersihkan Kulit dengan Lembut

Setelah beraktivitas di luar ruangan, bersihkan kulit untuk menghilangkan keringat, debu, dan partikel yang menempel di permukaan. Gunakan air bersih dan sabun atau pembersih yang lembut sesuai kebutuhan.

Hindari menggosok kulit terlalu keras atau menggunakan air yang terlalu panas karena hal tersebut dapat memperburuk kulit kering dan iritasi. Setelah mandi atau mencuci wajah, keringkan kulit dengan menepuknya secara perlahan menggunakan handuk bersih.

3. Gunakan Pelembap

Pelembap membantu mempertahankan kelembapan dan mendukung fungsi lapisan pelindung kulit. Pilih produk yang sesuai dengan jenis kulit dan tidak menimbulkan iritasi.

Untuk kulit sensitif, produk tanpa pewangi dapat menjadi pilihan yang lebih mudah ditoleransi. Gunakan pelembap setelah mandi atau mencuci wajah ketika kulit masih sedikit lembap.

Pelembap tidak dapat menangkal seluruh efek polusi, tetapi dapat membantu mengurangi kekeringan dan menjaga kondisi kulit.

4. Tetap Gunakan Tabir Surya pada Siang Hari

Tabir surya membantu melindungi kulit dari radiasi ultraviolet, yang merupakan risiko berbeda dari paparan asap karhutla. Jika harus beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, gunakan tabir surya dengan perlindungan spektrum luas dan SPF minimal 30.

Pilih produk yang nyaman digunakan dan tidak menimbulkan iritasi. Tabir surya bukan pengganti upaya mengurangi paparan asap, sehingga tetap utamakan pembatasan aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara buruk.

5. Hindari Produk yang Memperparah Iritasi

Ketika kulit sedang gatal, kemerahan, atau terasa perih, sebaiknya kurangi penggunaan produk dengan bahan aktif yang berpotensi mengiritasi, seperti eksfolian kuat atau produk berpewangi yang tidak cocok.

Jangan menggunakan krim steroid atau obat kulit secara sembarangan tanpa mengetahui penyebab keluhan. Jika muncul ruam yang menetap, luka, atau gejala semakin berat, konsultasikan dengan dokter.

6. Gunakan Pakaian yang Menutupi Kulit Saat Diperlukan

Jika pekerjaan mengharuskan seseorang berada di luar ruangan, pakaian berlengan panjang dapat membantu mengurangi kontak langsung kulit dengan partikel di lingkungan. Setelah digunakan, ganti pakaian dan cuci secara rutin.

Pakaian bukan perlindungan sempurna terhadap polusi udara, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi paparan langsung pada kulit. Untuk perlindungan pernapasan, gunakan masker atau respirator yang sesuai dan pas di wajah; masker tersebut tidak menggantikan perlindungan kulit.

Kapan Keluhan Kulit Harus Diperiksakan?

Keluhan ringan seperti kulit kering atau gatal dapat membaik setelah paparan berkurang dan perawatan kulit dilakukan dengan tepat. Namun, segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan jika ruam terus menyebar, kulit terasa sangat nyeri, muncul lepuhan, terjadi pembengkakan, atau terdapat tanda infeksi seperti nanah dan demam.

Jika memiliki eksim atau penyakit kulit kronis dan gejalanya memburuk selama kabut asap, dokter dapat membantu menyesuaikan pengobatan. Jangan menganggap semua ruam selama musim karhutla pasti disebabkan oleh polusi, karena alergi, infeksi, dan kondisi lain juga dapat menimbulkan gejala serupa.

Apabila paparan asap disertai sesak napas, nyeri dada, atau kesulitan bernapas, segera cari pertolongan medis.

Kesimpulan

Paparan asap karhutla secara terus-menerus dapat berkontribusi terhadap iritasi kulit, kekeringan, rasa gatal, kemerahan, serta memperburuk kondisi seperti eksim pada sebagian orang. Dampaknya dipengaruhi oleh tingkat polusi, durasi paparan, dan kondisi kulit masing-masing individu.

Dalam konteks kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, masyarakat perlu memperhatikan bukan hanya kesehatan pernapasan dan mata, tetapi juga perubahan pada kulit selama kabut asap berlangsung. Mengurangi aktivitas di luar ruangan, membersihkan kulit dengan lembut, menggunakan pelembap, dan menghindari produk yang mengiritasi dapat membantu menjaga kesehatan kulit.

Meski demikian, perawatan kulit tidak menggantikan kebutuhan untuk mengurangi paparan polusi. Jika keluhan menetap atau semakin parah, pemeriksaan medis merupakan langkah terbaik untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan penanganan yang tepat.