esbicare
  • Artikel
  • Kabut Asap Bisa Menyebabkan Masalah Kulit? Ini Dampaknya bagi Kesehatan Wajah
14148.jpg

Kabut Asap Bisa Menyebabkan Masalah Kulit? Ini Dampaknya bagi Kesehatan Wajah

Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Kalimantan. Pada Agustus 2026, pemerintah memperkuat operasi penanganan karhutla di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan setelah meningkatnya titik panas serta laporan kabut asap dan menurunnya jarak pandang di beberapa wilayah.

Kabut asap selama ini lebih sering dikaitkan dengan gangguan pernapasan. Namun, paparan udara tercemar juga dapat memberikan dampak pada kulit, terutama jika seseorang sering beraktivitas di luar ruangan ketika konsentrasi asap dan partikel polutan sedang tinggi.

Partikel polusi seperti PM2.5 dapat berinteraksi dengan permukaan kulit dan dikaitkan dengan gangguan fungsi pelindung kulit, stres oksidatif, serta peradangan.

Lantas, apakah kabut asap benar-benar bisa menyebabkan masalah kulit?

Bagaimana Kabut Asap Memengaruhi Kulit?

Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan membawa campuran berbagai partikel dan zat hasil pembakaran. Partikel yang sangat kecil dapat menempel pada permukaan kulit dan berinteraksi dengan lapisan pelindung alami kulit.

Paparan polusi udara diketahui dapat meningkatkan pembentukan reactive oxygen species atau radikal bebas. Kondisi tersebut dapat memicu stres oksidatif dan peradangan pada kulit.

Jika paparan terjadi berulang kali, fungsi skin barrier juga dapat terganggu. Kulit kemudian menjadi lebih mudah kehilangan kelembapan dan lebih sensitif terhadap berbagai faktor dari lingkungan.

Wajah Bisa Menjadi Lebih Kering

Salah satu keluhan yang dapat muncul ketika kulit terpapar lingkungan dengan kualitas udara buruk adalah kulit terasa kering atau tertarik.

Gangguan pada skin barrier dapat membuat kulit lebih sulit mempertahankan kelembapan. Akibatnya, wajah dapat terasa kasar, kencang, atau mengalami pengelupasan ringan.

Kondisi ini dapat semakin terasa pada orang yang memang memiliki kulit kering atau sensitif.

Kulit Bisa Lebih Mudah Iritasi

Partikel polusi yang menempel pada kulit dapat memicu respons peradangan. Akibatnya, sebagian orang mungkin mengalami kulit kemerahan, terasa panas, gatal, atau lebih sensitif dari biasanya.

Bagi pemilik kulit sensitif, paparan kabut asap yang berlangsung berulang dapat membuat keluhan kulit terasa lebih mengganggu.

Jerawat Bisa Semakin Sulit Dikendalikan

Polusi udara juga dikaitkan dengan memburuknya sejumlah kondisi peradangan kulit, termasuk jerawat. Tinjauan penelitian menunjukkan bahwa paparan polusi dapat memengaruhi fungsi skin barrier dan memicu proses oksidatif serta peradangan.

Ketika kotoran dan partikel polusi menempel pada wajah, kulit yang sudah berminyak atau mudah berjerawat dapat terasa semakin tidak nyaman.

Namun, kabut asap bukan satu-satunya penyebab jerawat. Faktor hormon, produksi minyak, penggunaan kosmetik, stres, dan faktor lainnya juga dapat berperan.

Wajah Bisa Terlihat Lebih Kusam

Paparan polusi secara berulang dapat meningkatkan stres oksidatif pada kulit. Penelitian mengenai polusi udara menunjukkan adanya hubungan antara paparan partikulat dengan proses penuaan kulit dan perubahan fungsi skin barrier.

Akibatnya, kulit dapat terlihat kurang segar, lebih kusam, atau mengalami perubahan tekstur.

Kondisi tersebut bukan berarti kabut asap secara langsung membuat kulit menjadi hitam, tetapi paparan lingkungan yang buruk dapat berkontribusi terhadap kesehatan dan penampilan kulit.

Apakah Kabut Asap Bisa Menyebabkan Penuaan Dini?

Paparan polusi udara telah dikaitkan dalam penelitian dengan tanda-tanda penuaan kulit. Salah satu mekanismenya adalah stres oksidatif yang dapat memicu proses peradangan dan memengaruhi struktur kulit, termasuk kolagen.

Karena itu, perlindungan kulit tidak hanya diperlukan ketika cuaca cerah. Ketika kualitas udara memburuk akibat asap dan polusi, kulit juga membutuhkan perhatian lebih.

Siapa yang Lebih Rentan Mengalami Masalah Kulit?

Tidak semua orang akan mengalami keluhan yang sama setelah terpapar kabut asap.

Orang dengan kulit sensitif, dermatitis, eksim, jerawat, atau kondisi kulit inflamasi lainnya mungkin lebih mudah mengalami iritasi. Anak-anak dan orang yang sering bekerja atau beraktivitas di luar ruangan juga memiliki paparan lingkungan yang lebih tinggi.

Jika kulit sudah memiliki gangguan sebelumnya, paparan polusi dapat membuat gejalanya lebih sulit dikendalikan.

Cara Melindungi Kulit Saat Kabut Asap

Ketika kualitas udara sedang buruk, langkah pertama adalah mengurangi paparan. Batasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi udara sedang tidak sehat.

Setelah beraktivitas di luar, bersihkan wajah dengan pembersih yang lembut agar partikel yang menempel dapat diangkat tanpa menggosok kulit terlalu keras.

Gunakan pelembap untuk membantu mempertahankan fungsi skin barrier. Pada siang hari, tetap gunakan tabir surya sesuai kebutuhan karena perlindungan terhadap sinar UV tetap penting.

Hindari melakukan eksfoliasi berlebihan atau menggunakan terlalu banyak bahan aktif ketika kulit sedang terasa perih, kering, atau mengalami iritasi.

Jangan Melakukan Eksfoliasi Berlebihan

Saat wajah terasa kotor setelah terkena kabut asap, sebagian orang mungkin tergoda mencuci wajah berulang kali atau menggunakan scrub yang kasar.

Padahal, tindakan tersebut dapat membuat lapisan pelindung kulit semakin terganggu.

Membersihkan wajah dengan lembut sudah cukup. Kulit tidak perlu digosok keras untuk menghilangkan partikel polusi.

Perhatikan Kondisi Udara Sebelum Beraktivitas

Selain merawat kulit setelah terkena polusi, memperhatikan kualitas udara sebelum keluar rumah juga penting.

Ketika kondisi udara sedang buruk, pilih aktivitas di dalam ruangan dan pastikan sirkulasi udara rumah dikelola dengan baik.

Jika harus keluar, gunakan perlindungan yang sesuai dan batasi waktu berada di area yang dipenuhi asap.

Kapan Masalah Kulit Perlu Diperiksa?

Kulit yang sedikit kering atau terasa kurang nyaman setelah berada di lingkungan berasap dapat membaik setelah paparan berkurang.

Namun, sebaiknya periksa ke dokter kulit apabila kemerahan, gatal, ruam, peradangan, atau pengelupasan terus berlangsung dan tidak membaik meskipun sudah mengurangi paparan.

Pemeriksaan juga penting jika muncul luka, pembengkakan, atau reaksi kulit yang cukup berat.

Kabut Asap Bukan Hanya Masalah Pernapasan

Kebakaran hutan dan lahan dapat menghasilkan polusi udara yang berdampak pada berbagai aspek kesehatan. Selain gangguan pernapasan yang banyak diberitakan, penelitian juga menunjukkan bahwa polusi udara dapat berhubungan dengan gangguan skin barrier, peradangan kulit, jerawat, dan proses penuaan kulit.

Karena itu, ketika kabut asap terjadi, perlindungan kesehatan sebaiknya tidak hanya berfokus pada paru-paru, tetapi juga pada kulit dan mata.

Kesimpulan

Kabut asap dan polusi udara dapat berkontribusi terhadap masalah kulit, terutama melalui stres oksidatif, peradangan, dan gangguan pada fungsi pelindung kulit. Dampaknya dapat berupa kulit kering, iritasi, kemerahan, memperburuk beberapa kondisi kulit inflamasi, serta membuat kulit tampak lebih kusam.

Di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan yang sedang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan, mengurangi paparan asap menjadi langkah utama. Membatasi aktivitas di luar ruangan, membersihkan wajah dengan lembut, menjaga kelembapan kulit, dan memperhatikan kondisi kulit dapat membantu mengurangi dampak paparan polusi.

Jika muncul keluhan kulit yang menetap atau semakin parah, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter kulit.